Istrinya sejak lama ingin mandi di pemandian umum, akan tetapi Syaikh Ibnu Hajar tidak mampu membelikan tiket untuk masuk.
"Bersabarlah wahai istriku, sampai aku dapat mengumpulkan uang untuk membayar tiket masuknya untukmu," kata Ibnu Hajar menghibur.
Setiap kali mendapat rezeki, Ibnu Hajar menabung agar dia mampu memenuhi keinginan istrinya mandi di pemandian umum. Setelah tabungan itu dirasa cukup untuk membeli karcis, istri Syaikh Ibnu Hajar segera memohon izin kepada suaminya untuk pergi ke pemandian. Tetapi sesampainya di pemandian tersebut, dia tak diperbolehkan masuk oleh penjaganya.
"Hari ini tidak membuka pemandian untuk umun karena istri Syaikh Muhammad Ar-Ramli, seorang ulama ahli fiqih telah memesan pemandian ini untuknya beserta teman-teman wanitanya untuk berenang disini. Datanglah besok saja!" penjaga pemandian menjelaskan pada istri Ibnu Hajar.
Dengan perasaan kecewa akhirnya dia pun pulang kembali ke rumah.
"Sebaik-baik ilmu adalah ilmu Syaikh Muhammad Ar-Ramli. Hari ini istrinya telah memesan pemandian umun dan tidak mengizinkan seorang pun masuk ke dalamnya, tidak seperti ilmu engkau yang penuh dengan kemiskinan dan kesulitan hidup. Engkau ini, meskipun telah berusaha keras, namun tetap saja tidak memperoleh sesuatu dari ilmu yang telah engkau pelajari. Ambillah kembali uang-uangmu ini yang telah engkau peroleh, setelah berusaha menabung berhari-hari!" ucap istri Ibnu Hajar penuh kecewa.
"Wahai istriku, aku tidak menginginkan perkara-perkara duniawi. Aku rela dengan apa yang ditetapkan Allah Subhana ta'ala bagiku. Akan tetapi jika engkau menginginkan perkara-perkara duniawi, mari ikut aku ke sumur zamzam," kata Syaikh Ibnu Hajar seraya mengajak istrinya.
Mereka berdua pergi ke sumur zamzam. Sesampai di sana, Ibnu Hajar mulai menimba air. Ketika sampai ke atas, timba itu bukannya berisi air zamzam, melainkan dengan izin Allah timba itu telah penuh dengan dinar(emas).
"Apakah ini cukup untukmu?" kata Ibnu Hajar kepada istrinya. Istrinya terperanjat melihat apa yang disaksikan.
"Tidak," jawab istrinya singkat dengan masih menunjukan ketakjuban.
Syaikh Ibnu Hajar menimba lagi.
"Cukupkah ini untukmu?"
"Coba timba sekali kagi!" ucap istrinya, dia merasa senang.
Ibnu Hajar pun sekali lagi menurunkan timbanya, atas izin Allah timba pun penuh dengan uang dinar.
"Istriku, aku lebih menyukai kemiskinan. Aku telah memilih untuk diriku apa yang ada pada sisi Allah. Dunia dan seisinya tidak termasuk apa yang ada pada sisiNya. Dunia ini akan segera berlalu, umurnya singkat, dan kehidupannya hina. Sekarang pilihlah antara keduanya; kembalikan dinar-dinar itu ke dalam sumur zamzam, atau engkau ambil dinar-dinar tersebut dan engkau aku ceraikan." ucap Ibnu Hajar tegas kepada istrinya itu.
"Wahai suamiku. Sebaiknya kita memanfaatkan uang dinar ini sebagaimana umumnya orang-orang memanfaatkannya."
"Tidak."
"Jika demikian, kita kembalikan satu timba saja."
"Tidak."
"Jika demikian, bagaimana kalau kita ambil satu dinar saja untuk kita nikmati hari ini." pinta sang istri.
"Tidak! Kembalikan semuanya ke sumur atau engkau aku ceraikan."
"Baiklah....." jawab istrinya menghela napas, seulas senyum terukir dari wajahnya, "kita kembalikan saja ke sumur. Sungguh telah bertahun-tahun aku tinggal bersamamu, aku tidak ingin berpisah denganmu. Setelah engkau perlihatkan karamah ini kepadaku, aku semakin mantap hidup bersamamu, walau kita hidup dalam keadaan miskin. Demi Allah, aku akan bersabar dengan segala kesulitan hidup ini," lanjut ucap istrinya dengan penuh keikhlasan.
"Biar kelak di akhirat kita menjadi manusia kaya." istrinya itu menambahkan.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan sumur zamzam, ke rumah mereka yang begitu sederhana.
Dalil yang berkaitan :
يٰۤاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْ ۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.
[QS. At-Tagabun: Ayat 14]
Sumber : Kisah Sejuta Hikmah Kaum Sufi

ini hikayat yang saya cari, namun saya mau tahu referensinya dari kitab apa ya? barangkali antum tahu?
BalasHapusCoba baca kitabnya yang ditulis Ibnu Al Jauzy, banyak kisah2 seperti ini beserta jalur perawinya, cuman judulnya saya lupa
Hapus