Abdul Qadir Sang Shiddiqin


Menurut suatu riwayat ketika Syaikh Abdul Qadir Jailani kecil, bahwa menjelang keberangkatannya ke Baghdad, ibunya yang sudah menjanda, membekalinya dengan uang emas sebanyak 80 (delapan puluh) keping. Jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit. Uang tersebut dijahitkan pada bagian dalam mantelnya, persis di bawah ketiaknya. Uang ini adalah warisan dari almarhun ayahnya yang dimaksudkan sebagai bekal persiapan ketika menghadapi masa-masa sulit. Ketika hendak berangkat sang ibu berpesan:

"Anakku, dalam segala hal, dalam keadaan apa pun janganlah engkau berdusta atau berbohong kepada siapapun!"

Sang anak berjanji akan mematuhi dan memegang teguh pesan sang ibu. Maka berangkatlah Abdul Qadir.

Begitu kendaraan yang ditumpanginya sampai di Hamadan, rombongan tersebut dihadang sekawanan perampok.

Ketika menjarahi para rombongan, para perampok itu sama sekali tak memperhatikan Abdul Qadir, karena anak ini tampak sederhana dan miskin.

Baca juga : Bersabarlah Wahai Istriku (Ibnu Hajar Al Haitami)

Salah satu perampok tiba-tiba menanyainya.

"Apakah kau mempunyai uang?"

Abdul Qadir ingat janji kepada ibunya, ia segera menjawab, "Ya, aku punya uang 80 (delapan puluh) keping emas yang dijahitkan di dalam bajuku oleh ibuku."

Perampok itu tentu saja tercengang. Ia segera memanggil kawannya yang lain. Kawannya itu juga bertanya kepada Abdul Qadir, dan dijawab dengan jawaban yang serupa.

Para perampok ini heran ada manusia sejujur ini. Lalu mereka membawa Abdul Qadir kepada pemimpin perampok. Ia ditanya yang serupa dan dijawabnya tetap sama. Pemimpin perampok merasa penasaran lalu jahitan baju Abdul Qadir dibuka, maka didapatlah 80 (delapan puluh) keping uang emas sebagaimana yang dikatakannya.

Kepala perampok terhenyak heran atas sikap yang ditunjukan Abdul Qadir.

"Anak muda mengapa engkau berkata jujur kepadaku? Bukankah kejujuranmu bakal membawamu sial?"

"Tidak!" jawab Abdul Qadir. "Ibuku telah berpesan bahwa kepergianku dalam rangka menimba ilmu agama. Jika aku berbohong maka kepergianku ini akan tidak bermakna lagi. Karena itu aku harus tetap jujur!"

Mendengar jawaban ini menangislah kepala perampok, jatuh terduduk di kaki Abdul Qadir, dan menyesali segala dosa yang pernah dilakukan. Menurut riwayat kepala perampok dan keempat puluh anak buahnya akhirnya menjadi murid pertama dari Syaikh Abdul Qadir Jailanj. Peristiwa ini menunjukan proses menjadi Shiddiq. Andaikata ia tidak benar mana mungkin berani mempertahankan kejujuran dalam situasi seperti itu.

Dalil tentang kejujuran :

"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah engkau semua bersama-sama dengan orang-orang yang benar."
(Qs. At-Taubah: 119)

"Dan andaikata mereka itu bersikap benar terhadap Allah pastilah hal itu amat baik untuk mereka sendiri,"
(Qs. Muhammad: 21)

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud ra, bahwa Rasulullah saw. Bersabda, "Sungguh kejujuran itu akan membawa kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Sungguh seseorang berlaku jujur sehingga ia dicatat Allah sebagai orang yang jujur(shiddiq). Sungguh dusta itu akan membawa kecurangan dan kecurangan itu akan membawa ke neraka. Sungguh seseorang akan berlaku dusta sehingga ia dicatat Allah sebagai pendusta,"
(HR. Bukhari nomor. 6094 dan Shahih Muslim nomor. 2607)

Semoga Allah menjadikan kita dan anak cucu kita sebagai golongan hambaNya yang jujur, amin.

SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Posting Komentar

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com
Ry Permana. Diberdayakan oleh Blogger.