Hasan Al Bashri
Al Bashri diambil dari nama tempat beliau tinggal yaitu Bashrah(irak), Beliau adalah yang paling senior dikalangan tabiin. Beliau juga periwayat hadits dan ulama terkemuka di Bashrah, banyak dari kalangan tabiin dan sesudahnya mengikuti Majelis beliau.
Dikalangan ahli tasawuf sendiri beliau dihormati karena kezuhudan dan kalangan sufi menyakini Al Hasan mendapat ilmu tentang batin dari Hudzaifah bin Yaman(salah satu tokoh sahabat yang bisa membedakan mana mukmin dan orang munafik).
Pada suatu hari, ketika Abu ‘Amr, seorang ahli tafsir terkemuka sedang mengajarkan Al-Quran, tak disangka-sangka datanglah seorang pemuda tampan ikut mendengarkan pembahasanya.
Abu ‘Amr terpesona memandang sang pemuda dan secara mendadak lupalah ia akan setiap kata dan huruf dalam Al Quran. Ia sangat menyesal dan gelisah karena perbuatannya itu.
Dalam keadaan seperti ini pergilah ia mengunjungi Hasan dari Bashrah untuk mengadukan kemasygulan hatinya itu.
“Guru.” Abu ‘Amr berkata sambil menangis. Menceritakan semuanya kepada Hasan Al Bashri.
“Begitulah kejadiannya. Setiap kata dan huruf Al-Quran telah hilangdari ingatanku.”
Hasan begitu terharu mendengar keadaan Abu ‘Amr.
“Sekarang ini adalah musim haji.” Hasan berkata kepadanya.
“Pergilah ke Tanah Suci dan tunaikan ibadah haji. Sesudah itu pegilah ke Masjid Khaif. Di sana engkau akan bertemu denga seorang tua. Jangan engkau langsung menegurnya tetapi tunggulah sampai keasyikannya beribadah selesai. Setelah itu barulah engkau mohonkan agar ia mau berdoa untukmu.”
Abu ‘Amr menuruti petuah Hasan. Singkat cerita setelah berada di pojok ruangan masjid Khaif, Abu ‘Amr melihat seorang tua yang patut dimuliakan dan beberapa orang yang duduk mengelilingi dirinya.
Beberapa saat kemudian masuklah seorang lelaki yang berpakaian putih bersih. Orang-orang itu memberi jalan kepadanya. Mengucapkan salam dan setelah itu mereka pun berbincang-bincang dengannya. Ketika waktu shalat telah tiba, lelaki tersebut minta diri untuk meninggalkan tempat itu.
Tidak berapa lama kemudian yang lain-lainnya pun pergi juga, sehingga yang tinggal di tempat itu hanyalah si orang tua tadi.
Abu ‘Amr menghampirinya dan mengucapkan salam.
“Dengan Nama Allah, tolonglah diriku ini,” Abu ‘Amr berkata sambil menangis.
Kemudian menerangkan dukacita yang menimpa dirinya. Si orang tua sangat prihatin mendengar penuturan Abu ‘Amr tersebut, lalu menengadahkan kepala dan berdoa.
Belum lagi ia merendahkan kepalanya. Abu ‘Amr merasa dalam hatinya, semua kata dan huruf dalam Al Qur'an dapat kembali dia ingat. Ia bersujud syukur.
"Siapa yang telah menyuruhmu untuk menghadap kepada ku?” Kata orang tua itu bertanya kepada Abu ‘Amr.
“Hasan dari Bashrah,” Jawab Abu ‘Amar.
"Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan.” Lelaki tua tersebut berkomentar, "mengapa ia memerlukan imam yang lain? Tapi baiklah, Hasan telah menunjukan siapa diriku ini dan kini akan ku tunjukan siapakah dia sebenarnya. Ia telah membuka selubung diriku dan kini kubuka pula selubung dirinya."
Kemudian orang tua itu meneruskan, “Lelaki yang berjubah putih tadi, yang datang ke sini setelah waktu shalat ‘Ashar dan yang terlebih dahulu meninggalkan tempat ini serta dihormati orang-orang lain tadi, ia adalah Hasan. Setiap hari setelah melakukan Shalat ‘Ashar di Bashrah ia berkunjung ke sini, berbincang-bincang bersamaku, dan kembali lagi ke Bashrah untuk shalat Maghrib di sana. Jika seseorang telah mempunyai imam seperti Hasan, mengapa ia masih merasa perlu memohonkan doa dari diriku ini?"
***
Salah satu puisi atau syair Imam Syafi'i yang terkenal adalah : "Syakautu ila waqi'an su'i hifdzi fa arsyadani ila tarkil ma'ashi. Wa allamani biannal ilma nurun wa nurullahi la yahdi lil ashi."
"Aku berkata kepada Imam Waqi, kenapa hafalanku jelek. Dia memberikan petunjuk agar aku meninggalkan maksiat. Dia mengajariku karena itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak diberikan kepada orang yang berlaku maksiat."
Imam Waqi disini adalah Waqi bin Jarah (Ulama tabiin, guru para tabiut tabiin). Salah satu mukjizat Al Quran dibanding kitab lainnya adalah kitab umat Islam ini bisa dihafalkan bukankah kelebihan umat kita dari hafalannnya? Mari kita sama-sama menghafal Al qur'an karena sifat Fathonah dari Rasulullah Saw adalah salah satunya beliau kuat hafalannya begitupun ulama-ulama sesudahnya.

0 komentar:
Posting Komentar