Lihat Aku, Erika (Dawai Cintaku Hilang Di Malam Itu)

Lihat aku !

Penulis : Ry Permana

Memandangnya menjadi acara rutin. Setiap aku duduk di bangku ini, aku mungkin sudah ketergantungan pada dirinya, wajahnya, rambutnya, dan juga senyumnya.

Dia yang paling cantik menurutku di kelas ini, walau banyak lelaki di kelasku menganggap dia kurang menarik, dadanya rata untuk seorang perempuan.

Aku pun pada awalnya seperti itu, tapi aku memang harus jujur pada diriku sendiri, dia begitu menarik dan menawan. Pandanganku selalu tertawan oleh mata polos itu, mata yang ketika bertemu dengan mataku mampu merusak jantungku, berlari dan berlari. Oh, jantungku terus berlari walau tanpa kaki.

Sekarang aku harus mengejarnya, memeluknya, dan membuatnya melihatku.

"Lihat aku!"

"Ho" Erika tampak terkejut.

Aku harus berkata apa? Aku lupa dengan skenario yang sudah kubuat dengan sempurna. Matanya menghipnotisku, kabut menyelimuti pikiranku.

"Aku mencintaimu! Lihat Aku!"


Erika POV

Mataku mengerjap, dia lagi "nembak" aku kah? Okazaki Arima, lelaki asal Jepang ini tiba-tiba bilang cinta padaku.

Pandangan matanya mengunciku seakan tak ada jalan bagiku untuk lari. Aku juga mencintainya, tapi....

Sadarlah Erika! Aku cepat-cepat menggelengkan kepalaku, menggeliatkan tubuhku berusaha lepas dari cengkramannya yang berada di kedua lenganku.

Aku berlari cepat menyusuri tiap lorong yang membawaku pergi entah kemana? Aku terus berlari sampai napasku sesak dan mataku kabur oleh air mata yang membanjiri pandanganku.

Aku mungkin jatuh cinta padanya, tapi tak bisa bersamanya. Dia sosok yang aku kagumi.

Aku sudah menyukainya ketika itu, saat aku menjemput adikku kursus musik. Ketika samar-samar aku mendengar lantunan melodi indah.

Suara itu berasal dari tarian jari-jemari yang lincah Arima Okazaki, teman sekelasku.

Aku memandangnya dengan takjub, baru kali ini aku melihat secara langsung dia memainkan piano.

Sejak saat itu setiap hari dan setiap detik dalam hidupku dipenuhi nada-nada cinta dari Arima. Nada-nada yang membawa kehangatan hanya dengan memikirkannya saja dan sekarang dia "menembak" ku? Aku bodoh, tapi ini suratan takdir kita.

Arima, maaf.


***

Point Of View Arima

Aku tak ingin menyerah! Aku merasa kehilangan beberapa nada dalam hatiku, hatiku tak bisa kembali berdawai.

Aku harus cari waktu untuk berdua, aku tak mungkin berbicara padanya saat ia berkumpul dengan temannya. Tapi, bagaimana caranya?

Saat jam pelajaran Matematika dia keluar untuk pergi ke toilet, ini kesempatan. Aku pun sama dengannya meminta ijin ke toilet dan menunggunya keluar.

Erika tampak sedikit terkejut melihatku, dia menundukan kepalanya dan berjalan cepat. Tentu saja aku halangi.

"Erika, kita perlu bicara...." kataku kemudian. "Aku minta maaf soal kejadian waktu itu, tapi sungguh aku memang mencintaimu."

Dia masih menundukan kepalanya, tubuhnya tampak bergetar. Apa aku membuatnya takut.

"Erika?" tanyaku.

Dia mengepalkan kedua tangannya seperti sedang menahan sesuatu.

"Aku juga mencintaimu."

Hah? Benarkah? Aku coba melihatnya lagi, jemariku meraih dagunya dengan perlahan ku angkat wajahnya. Dia menangis.

"Kenapa kau menangis Erika? Aku tak memaksamu untuk mencintaiku," ucapku sembari kedua tanganku berada di pipinya mengusap tiap air mata yang keluar. Tersenyum mencoba tersenyum, berusaha menenangkannya.

"Sudah jangan menangis, aku jadi merasa bersalah."

"Kamu tidak salah, aku memang mencintaimu. Tapi aku takut jauh darimu."

Aku memeluknya, membenamkan kepalanya di dadaku. Badannya sekarang sedikit melemas, dia mungkin sudah mulai tenang.

Aku berbisik, "Malam minggu di taman cincin."

Dia hanya mengangguk kecil. Dia benar-benar lucu.

***

Malam Minggu

Aku menunggu sudah sampai 1 jam lebih, bukan salah Erikka juga karena aku datang dari 1 jam yang lalu.

"Arima!"

Aku pun menoleh ke arah suara yang memanggilku, gadis berambut panjang lurus dengan mata bulatnya menghampiriku.

"Maaf telat. Sudah lama menunggu kah?" katanya menghampiriku.

"Nggak juga kok, ayo!"

Aku memegang tangannya, menariknya dan membawanya pergi. Akan kubuat ia tak pernah lupa kencan pertama kita ini.

Memang benar kata orang-orang, saat kita jatuh cinta dunia berasa milik kita berdua. Aku ingin selalu menggenggam tangannya seperti ini, membuatnya tersenyum seperti ini, dan terus bisa memandangnya seperti ini.

Kami habiskan waktu dengan mengobrol dan makan. Aku merasa seperti anak SMP, ya tahu sendiri anak jaman sekarang sukanya main di pojokan. Aku tak ingin seperti itu. Aku ingin menjaganya, selalu menjaganya.

Aku mengantarnya pulang dengan berjalan kaki, tubuhnya sedikit menggigil. Memang udara malam ini begitu menusuk, aku pun menaruh jaketku di pundaknya.

Dia melihatku dengan tersenyum, "terima kasih, jaketnya wangi Arima. Aku berasa sedang di peluk."

"Aku akan memelukmu setiap hari kalau kamu mau...." balasku. "Aku akan selalu ada untukmu, sayang."

Wajahnya merona, dia tampak sedikit terkejut. Ini pertama kalinya aku memanggilnya "sayang".

Stasiun kereta? Aku baru tahu rumahnya dekat stasiun kereta, kami berada disini sekarang.

"Mungkin ini terakhir kalinya," ucapnya.

Sekarang dia yang membuatku terkejut, "maksudmu apa, Erika?"

Dia memalingkan pandangannya dan sedikit menghela napas. "maaf, tapi aku tidak akan tinggal lagi disini."

Matanya kembali menatapku, "aku sungguh tak ingin membuatmu terluka. Arima, aku mencintaimu. Hari ini aku akan ke Cirebon, barang-barangku sudah dibawa kesana."

Aku mencoba untuk tersenyum dengan segala rasa yang mengiris hatiku, "kita kan masih bisa bbm-an, telepon, atau mengirim surat?"

Dia menggeleng cepat, "tidak bisa, Ar. Orang tuaku menyuruh untuk masuk pesantren dan mulai besok aku mungkin akan memakai jilbab menutupi auratku. Aku tak akan bisa dekat denganmu lagi termasuk pria mana pun sampai aku menikah. Ini harapanku, harapan seorang gadis." ucapnya.

"Kalau begitu aku tidak akan menunggumu."

"Iya, kau jangan menungguku."

Kereta listrik itu berhenti di hadapan kami, Erika melihatku. Dia menyerahkan kembali jaketku, "selamat tinggal." katanya.

"Tidak...." aku menggeleng, "sampai jumpa. Kejarlah cinta Allah, aku pun akan berusaha mengejarnya. Aku mencintaimu, Erika."

"Hmm...." dia mengangguk wajahnya tersenyum padaku, "aku juga mencintaimu."

Pintu kereta pun tertutup dan sesaat kemudian kereta melaju. Kereta itu membawa hatiku bersama seorang gadis, gadis yang membuatku terpikat. Gadis itu adalah alasan kenapa aku masih terus bermain piano.

Aku berlari mengejar kereta yang tak mungkin ku kejar, melihat gadis itu dibalik kaca dan terus berlari sembari memandang wajahnya.

Kereta itu semakin cepat sampai langkahku terhenti, Erika sudah menghilang.

Jangan pergi, aku mohon jangan pergi. Mataku buram dan terdengar suaraku yang sesenggukan.

Aku akan selalu merindukanmu, Erika.


SHARE

Milan Tomic

Hi. I’m Designer of Blog Magic. I’m CEO/Founder of ThemeXpose. I’m Creative Art Director, Web Designer, UI/UX Designer, Interaction Designer, Industrial Designer, Web Developer, Business Enthusiast, StartUp Enthusiast, Speaker, Writer and Photographer. Inspired to make things looks better.

  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
  • Image
    Blogger Comment
    Facebook Comment

3 komentar:

luvne.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com tipscantiknya.com kumpulanrumusnya.comnya.com
Ry Permana. Diberdayakan oleh Blogger.